Monday, September 19, 2005

dunia Malam

Dunia ini seperti tak pernah tertidur. selalu saja ada yang beraktifitas. entah kapan dunia akan tidur barang sejenak. menikmati istirahat setelah lelah bekerja keras. meski malam telah merentang, namun, suara hingar bingar masih terus terdengar entah itu dari kendaraan ataukan dari obrolan orang-orang yang mencoba membuang rasa kantuk.

Tanpa peduli gigitan angin malam, masih banyak yang berusaha mengais sesuap nasi untuk dirinya ataupun keluarga. mengayuh sepeda di tengah malam buta. Bukan menuju ke peraduan melainkan menuju hiruk pikuk yang akan menghasikan sesen untuk kepulan asap darpu. berada di tenagh keramaian pasar. di tengah bisingnya suara orang yang menawar dan memilih barang dagangan untuk pagi hari.

Memenuhi isi keranjang sepedanya dengan berbagai macam muatan hingga hampir oleng. meski malam semakin menusuk tulang, bukan kedinginan yang terasa. Melainkan keringat sebesar biji jagung yang terlihat. Dengan susah payah kembali dikayuhnya sepeda hingga berputar perlahan-lahan untuk menuju rumah. Mengatur barang bawaan dan menatanya hingga menarik minat pembeli. Sambil menunggu pelanggan pertama datang, bukan memejamkan mata yang dilakukan, melainkan menyalakan asap dapur. Menyiapkan masakan ataupun tungku. Hingga fajar menyingsing, tubuhnya yang terbakar matahari dari dan digigt angin malam tak juga membuang lelah barang sejenak.

Sajar datang justru saat yang ditunggu-tunggu untuk melayani pelanggan-pelanggan yang mulai berdatangan. berbelanja untuk kepulan asap dapur. dan hingga siang, aktifitasnya tak juga berhenti. Masih ada tangisan anak-anaknya yang masih kecil yang menunggu disuapi untuk mengisi perut. Membersihkan rumah, mencuci baju dan sekadar membuat penganan kecil untuk dijual berkeliling di sore hari. bukan kerja yang ringan, meski lembaran yang dihasilkan tak juga sepadan dengan tenaga yang dibuangnya. Seperti siklus air, setiap ahri selalu berulang. layaknya rutintas yang tak pernah berhenti dan tanpa variasi meski kadang tak juga bisa mencukpi kebutuhan rumah. Namun, semangat yang ada tak juga pernah hilang.

kehidupan desa mungki membosankan. Namun, di balik itu, menyimpan sejuta makna. menyimpan sejuta pengorbanan yang kadang tak terlihat. tukang-tukang sayur keliling ataupun yang berjualan di rumah adalah mahkluk 24 jam yang bekerja untuk mempertahankan hidup di tengah tempaan dunia.

No comments: