Sunday, November 09, 2008

Tentang kasih

Bayangkan ada sebuah meja makan empat buah kursi dihadapan kita. Marilah kita letakan seorang yang berbeda di setiap kursi. Di sisi pertama ada seorang yang anggun dan lembut sedang duduk. Senyumnya selalu ada di wajahnya. Itu lah ibu kita. Di sisi lainnya ada seorang yang kokoh dan kuat. Wajahnya menyiratkan kasih dan kebijaksanaan dan tanggung jawab. Itulah ayah kita. Sedang di sisi lain lagi ada seseorang yang tidak berbeda jauh usianya dengan kita. Wajahnya pun hampir mirip dengan kita. Dan di sisi yang terakhir, ada dirimu di situ. Bayangkan wajah-wajah yang duduk di tiap-tiap kursi itu. Wajah mama, papa, kakak, ataupun adik kita.


Ingat-ingatlah pembicaraan yang kamu lakukan di meja itu. Cerita kakak tentang hari – harinya di sekolah, cerita ibu tentang masakannya, cerita ayah tentang berita di Koran, dan cerita dirimu sendiri. Ramai sekali. Senangkah kamu dengan cerita-cerita mereka? Nyamankah kamu dengan suasana itu?


Sekarang, bayangkan bila 5 atau 10 tahun kemudian, meja makan yang sama. Kursi-kursi yang sama. Tapi sekarang hanya ada 3 orang yang mengisinya. Entah mama ataupun papa ataupun adik kakak kita, tak ada di situ. Meja makan itu tidak ramai lagi. Yang ada hanya hening.


Putar kembali kenanganmu.


Gambarkan wajah mama di pikiranmu. Ingat-ingat kembali suaranya di telingamu. Setiap perkataannya, setiap pujiannya, setiap perintahnya, setiap kemarahannya.

Lihatlah fisiknya. Kerut-kerut di wajahnya mulai terlihat. Tangannya tak sekuat dulu lagi. Dan rambutnya, rambutnya mulai dipenuhi warna putih.


Dulu, di dalam perutnyalah kamu tinggal. 9 bulan lamanya mama membawamu kemana pun beliau pergi. Tanganya sering mengusap-usap dirimu sambil tersenyum. Dan setiap kali engkau menendang, beliau tidaklah marah. Mama malah tersenyum sambil berkata, “Semoga kamu menjadi anak yang sehat dan kuat anakku”. Dan papa pun akan berkata, “Dia akan menjadi jagoanku. Dia akan menjadi putriku.”


Tahukah kamu bagaimana mama berjuang saat kamu ingin keluar dari perut mama?

lewat dirinya lah kamu lahir. Lewat dirinya kamu keluar ke dunia ini. Pertaruhan nyawa yang dia berikan. Hanya satu pesannya pada dokter yang membantunya, “Biarkan anak ini lahir dengan selamat, meski aku harus pergi selamanya.” Kesempatannya untuk melihat matahari lagi dia pertaruhkan agar kamu juga memiliki kesempatan untuk lahir.


Dengan sabar dan telaten, mama merawat kamu. Meninabobokan kamu, menanggapi setiap rengekan kamu. Saat kamu jatuh dan menangis, mama segera menghampiri dan menggendongmu. Sepasang tangannya membelai kamu dan menenangkan kamu.


Sekarang coba tambah gambar mu dengan gambar papa. Gambarkan setiap detail wajahnya. Dan ingat –ingatlah suaranya. Kelembutan, ketegasan, kemarahannya, kesedihannya. Tangannya-tanganya yang kokoh, punggung nya yang kuat, dan jejak langkahnya yang lebar. Di pundaknya yang lebar itu, kamu sering didudukannya. Diajak berlari-lari sampai kamu tertawa tebahak-bahak. Di tangannya yang kokoh dan kuat itu, kamu sering didekap dan digendongnya. meski mungkin suaranya yang keras dan tegas membuatmu takut, tapi setiap kamu menangis, dia akan mengelus rambutmu. Menepuk pundakmu. Membesarkan hatimu.


Mungkin papa tak selalu menyambutmu di rumah ketika kamu pulang sekolah. Tapi, dia selalu ingat kamu. Dari tangannya kamu bisa menikmati makanan mu, memainkan mainanmu, memiliki baju-baju baru. Dari tangan dan otak papa yang bekerja, kamu bisa hidup tanpa memusingkan uang.


Sama denagn mama, wajahnya mulai memiliki banyak kerutan. Tangannya yang dulu kokoh, sekarang mulai kehilangan kekuatannya. Papa mulai tak bisa mengimbangi larimu yang semakin cepat. Pundaknya yang dulu tegap, kini mulai terlihat loyo. Kekuatan yang dulu sempat membuat kamu takut sekaligus senang, mulai perlahan menghilang.


Pernahkah kamu mengatakan, “ Mama, aku sayang kamu.”

“Papa, aku sayang kamu.” ?


Yang biasa kamu katakan hanyalah, “ Ma, aku minta ini.”

“Pa, aku minta itu”


Merengek-rengek. Membuat mama dan papa cemas. Membuat mama dan papa marah. Membuat mama dan papa sedih.


Padahal, mama dan papa selalu peduli pada kamu. Larangan-larangan yang dia keluarkan, hanya untuk kamu. Semua yang mereka berikan, agar kamu mendapat yang terbaik. “biarlah aku kesusahan, asalkan anakku mendapat yang terbaik.” Selalu itu yang mereka pikirkan.

1 comment:

nie said...

thanks for sharing ya, Cha! such a true story that is :)