
Kala itu, cinta belum menyapaku. Cinta belum menemukan diriku. Aku belum pernah berhadapan dengan makhluk bernama CINTA. Aku belum mengenalnya. Aku belum bersalaman dengan dia. Aku belum mengecap makanan bernama LOVE.
Dan saat si Ai datang, aku kelimpungan. Saat si AMOR masuk ke mulutku, aku mengecap berbagai rasa di setiap sudutnya. Asin, pahit, manis, dan asamnya. Bercampur menjadi satu dan membuatnya semakin lezat. CINTA, LOVE, AI, AMOR. Berbagai jenis bahasa yang memiliki arti yang sama. Seperti rasa yang aku kecap. Biarpun ada asin, pahit dan asamnya, tapi justru di situ letak kelezatannya. Tidak hanya ada manisnya saja. Tapi kesemuanya itu memiliki peran dan bagiannya masing masing. Enaknya si AMOR ternyata juga karena ada sisi lain dari AMOR itu sendiri. Bila hanya ada manisnya saja, tentu tak banyak yang bisa masuk ke perut karena kita keburu eneg dan enggan makan.

Sama seperti cinta, jika hanya ada manisnya saja, tentunya tak ada greget yang membuat cinta itu bertahan. Justru kemarahan dan kesedihan itu menjadi bumbu bagi si CINTA itu sendiri. Membuat LOVE menjadi sangat berharga bagi empunya. Membuat AI dicari-cari setiap saat dibutuhkan oleh semua orang.
No comments:
Post a Comment