Malam semakin larut
Tiupan angin semakin menusuk tulang
kulit tipis selimut tubuh tak mampu menghalaunya
Tangan-tanganku sedingin es
hanya otakku yang berjalan sempurna
bersama detak teratur jantungku
Mataku nyalang menerawang
menatap di kejauhan
menerobos dimensi dunia
berusaha menembus gerbang otaknya
mencari kunci menuju hatinya
mengais keberadaan serpihan hatiku
mengumpulkannya dan membawanya keluar
menyatukan dengan potongan dalam hatiku
agar milikku utuh lagi....
No comments:
Post a Comment