Seringkali aku teringat sosoknya. Jika dulu, tak jarang aku
merasa malas untuk di sampingnya dalam waktu lama karena seringkali beda
pendapat. Kini, aku merasa rindu saat-saat itu. Aku ingin mengulangnya lagi.
Aku ingin berdebat lagi. Meskipun hanya untuk hal-hal sepele. Manusia itu aneh
ya. Saat dia masih ada.. seringkali merasa sebal atau lainnya. Namun, saat tak
bisa ditemui lagi, selalu ada perasaan rindu, ingin bertemu dengannya lagi.
Rasa ini yang sekarang sering menghantuiku.
Ada saatnya aku lupa jika sudah tak bisa saling bertukar
pesan di bbm. Tanpa sengaja aku mengetik pesan untuknya. Padahal handphone
blackberry nya sekarang aku yang memegangnya. Pin nya masih aku aktifkan.
Nomornya pun masih aktif sekarang.
Aku rindu melihat namanya terpampang di layar handphoneku.
Aku rindu menerima pesan singkatnya. Aku rindu mendengar gelak tawa dan
omelannya. Aku rindu menelponnya.
Tapi apa dayaku sekarang. Tak bisa lagi aku lakukan semua
itu. Tak bisa lagi aku bertukar pesan. Tak bisa lagi aku bertukar telpon. Tak
ada lagi gelak tawa dan omelannya dulu. Aku sungguh sangat ingin mendengarnya
lagi. Aku kehilangan penasehat terbaikku.
Saat aku melihat lemari bajuku, aku langsung teringat, tak
ada lagi yang menjahitkan baju untukku. Tak ada lagi yang aku rengeki untuk
membuatkan rok ataupun dress untukku. Aku kehilangan penjahit terbaikku.
Di saat aku pulang ke kampong halaman, tak ada lagi yang
memasakkan makanan kesukaanku. Tak ada lagi yang membuatkan aku sup asparagus,
kepiting bumbu merah, ataupun mie goring kesukaanku. Tak ada lagi yang
menyiapkan semua menu kesukaanku dan membelikan aku sarapan kegemaranku di
sana. Aku kehilangan koki terbaikku.
Dia adalah penjahit terbaikku, koki andalan untukku,
sekaligus penasehat terbaikku. Sepertinya banyak hal yang turut hilang dengan
kepergiannya.
Sepertinya hari ini aku sangat cengeng. Air mata sepertinya
sudah akan turun dari pelupuk.
No comments:
Post a Comment