Dulu, saat semuanya masih lengkap, seringkali aku melewatkan
saat-saat yang seharusnya aku habiskan dengan keluarga besar. Seringkali aku
sibuk dengan teman-teman atau dengan aktifitas di luar rumah. Dan ketika salah
satu anggota keluargaku tiada, ada rasa penyesalan. Bagiku, waktu yang
dilewatkan bersama masih kurang. Masih belum banyak kenangan yang kami buat
bersama. Bahkan aku belum sempat mengajak semua keluargaku berwisata bersama.
Saat papa angkat tiada 3 tahun lalu, kekosongan itu terasa. Beliau
yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Beliau yang mengenalkan aku
tentang dunia kerja. Beliau juga tempat aku biasa bertanya berdiskusi tentang
dunia kerja ataupun lainnya. Beliau juga yang mengajarkan aku untuk selalu
melakukan apapun tepat waktu dan disiplin. Beliau juga teman aku berwisata
kuliner. Kepergiannya yang mendadak membuat aku sempat kehilangan pegangan.
membuat aku kesepian meski masih ada anggota keluargaku yang lainnya.
Kepergiannya membuat aku berusaha menghabiskan sebanyak
mungkin waktu untuk berkumpul dengan anggota keluargaku yang lain. Di Jakarta,
masih ada mama angkat, oma, dan adikku, di Jawa timur, masih ada mama dan papa
kandungku. Mama sering datang ke Jakarta dan menghabiskan waktu bersama kami di
sini. Tapi entah mengapa, aku seringkali cekcok dengan beliau. Banyak hal yang
berseberangan dengan beliau. Terkadang malah membuat aku malas untuk berdekatan
lama. Komunikasi kami masih lancer, namun, mungkin tak sedekat dengan papa
angkat. Memang aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan papa dan mama angkat
mengingat sejak SMP aku sudah meninggalkan kota kelahiranku. Berbeda dengan
adikku yang baru menginjak kuliah meninggalkan rumah. Dia sangat dekat dengan
mama.
6 bulan lalu, saat mama kandungku meninggal, kekosongan
semakin besar. Ada rasa penyesalan. Kenapa dulu saat beliau masih hidup aku
sering cekcok dan malas dengan beliau. Kenapa aku dulu tidak akur-akur saja
dengan beliau. Kenapa aku dulu seringkali enggan pulang ke rumah kami. Kenapa aku
dulu malas menghabiskan waktu bersamanya. Ada banyak kenapa yang aku
pertanyakan pada diriku sendiri. Rasa penyesalan itu tidak bisa aku hilangkan
sampai saat ini.
Selain penyesalan, kepergiannya membuatku sadar, dia menjadi
segalanya untukku. Dulu mungkin aku tidak sadar, kalau aku butuh apapun, aku
meminta bantuannya. Dia menjadi kokiku terhandal saat kami bersama, dia menjadi
pejahit terbaikku, dia menjadi tempat aku mengadu ketika aku berantem dengan
adikku ataupun ketika aku memiliki masalah, dia adalah tempat aku mencari
berbagai solusi, dia adalah penengahku, dia yang membereskan semua persoalanku.
Dia menjadi segala yang aku butuhkan.
Sekarang, aku tak ingin lagi kehilangan moment-moment di
dalam keluargaku. Mereka berharga untukku. Aku tak ingin jauh dari mereka yang
membuat aku kehilangan waktu berharga bersama. Sebisa mungkin, aku berusaha
agar kami berlima, papa kandungku di Jawa timur, mama angkat, emak, dan adikku
bisa berkumpul bersama. Aku berusaha merancang liburan bersama yang bisa kami
nikmati bersama. Tak penting tempatnya,
yang penting adalah waktu yang kami habiskan bersama. Aku tak ingin waktu kami
hilang dan menyesal di kemudian hari. Sebisa mungkin, aku ingin mengukir
kenangan sebanyak yang kami bisa buat. Umur mereka sudah mulai senja, sudah
saatnya tanggung jawab beralih.
No comments:
Post a Comment