Friday, March 08, 2013

ketika mereka pergi



Dulu, saat semuanya masih lengkap, seringkali aku melewatkan saat-saat yang seharusnya aku habiskan dengan keluarga besar. Seringkali aku sibuk dengan teman-teman atau dengan aktifitas di luar rumah. Dan ketika salah satu anggota keluargaku tiada, ada rasa penyesalan. Bagiku, waktu yang dilewatkan bersama masih kurang. Masih belum banyak kenangan yang kami buat bersama. Bahkan aku belum sempat mengajak semua keluargaku berwisata bersama. 

Saat papa angkat tiada 3 tahun lalu, kekosongan itu terasa. Beliau yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Beliau yang mengenalkan aku tentang dunia kerja. Beliau juga tempat aku biasa bertanya berdiskusi tentang dunia kerja ataupun lainnya. Beliau juga yang mengajarkan aku untuk selalu melakukan apapun tepat waktu dan disiplin. Beliau juga teman aku berwisata kuliner. Kepergiannya yang mendadak membuat aku sempat kehilangan pegangan. membuat aku kesepian meski masih ada anggota keluargaku yang lainnya. 

Kepergiannya membuat aku berusaha menghabiskan sebanyak mungkin waktu untuk berkumpul dengan anggota keluargaku yang lain. Di Jakarta, masih ada mama angkat, oma, dan adikku, di Jawa timur, masih ada mama dan papa kandungku. Mama sering datang ke Jakarta dan menghabiskan waktu bersama kami di sini. Tapi entah mengapa, aku seringkali cekcok dengan beliau. Banyak hal yang berseberangan dengan beliau. Terkadang malah membuat aku malas untuk berdekatan lama. Komunikasi kami masih lancer, namun, mungkin tak sedekat dengan papa angkat. Memang aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan papa dan mama angkat mengingat sejak SMP aku sudah meninggalkan kota kelahiranku. Berbeda dengan adikku yang baru menginjak kuliah meninggalkan rumah. Dia sangat dekat dengan mama. 

6 bulan lalu, saat mama kandungku meninggal, kekosongan semakin besar. Ada rasa penyesalan. Kenapa dulu saat beliau masih hidup aku sering cekcok dan malas dengan beliau. Kenapa aku dulu tidak akur-akur saja dengan beliau. Kenapa aku dulu seringkali enggan pulang ke rumah kami. Kenapa aku dulu malas menghabiskan waktu bersamanya. Ada banyak kenapa yang aku pertanyakan pada diriku sendiri. Rasa penyesalan itu tidak bisa aku hilangkan sampai saat ini.

Selain penyesalan, kepergiannya membuatku sadar, dia menjadi segalanya untukku. Dulu mungkin aku tidak sadar, kalau aku butuh apapun, aku meminta bantuannya. Dia menjadi kokiku terhandal saat kami bersama, dia menjadi pejahit terbaikku, dia menjadi tempat aku mengadu ketika aku berantem dengan adikku ataupun ketika aku memiliki masalah, dia adalah tempat aku mencari berbagai solusi, dia adalah penengahku, dia yang membereskan semua persoalanku. Dia menjadi segala yang aku butuhkan. 

Sekarang, aku tak ingin lagi kehilangan moment-moment di dalam keluargaku. Mereka berharga untukku. Aku tak ingin jauh dari mereka yang membuat aku kehilangan waktu berharga bersama. Sebisa mungkin, aku berusaha agar kami berlima, papa kandungku di Jawa timur, mama angkat, emak, dan adikku bisa berkumpul bersama. Aku berusaha merancang liburan bersama yang bisa kami nikmati bersama.  Tak penting tempatnya, yang penting adalah waktu yang kami habiskan bersama. Aku tak ingin waktu kami hilang dan menyesal di kemudian hari. Sebisa mungkin, aku ingin mengukir kenangan sebanyak yang kami bisa buat. Umur mereka sudah mulai senja, sudah saatnya tanggung jawab beralih.

No comments: