Setelah mengetahui bahwa air mata gadis itu asin, lumba-lumba tidak pergi meninggalkan gadis itu. Ia malah berusaha memanggil gadis itu dengan bahasa lumba-lumbanya. Gadis itu sudah berjalan meninggalkannya sambil tetap menangis sedih.
Setelah mendengar suara lumba-lumba itu, ia berbalik kembali dan mendekati lumba-lumba. Ia merasa lumba-lumba itu memanggilnya meski ia tidak mengerti bahasa binatang. Setelah dekat dengan lumba-lumba itu, ia menepuk-nepuk kepala lumba-lumba itu sambil menghapus air mata yang masih ada di pipinya.
Lumba-lumba kembali mengeluarkan suara. Dan anehnya, gadis itu mengerti. Lumba-lumba itu ingin tahu, mengapa gadis itu menangis. Ia ingin menghibur gadis itu.
Sambil memainkan pasir yang terhampar di hadapannya, ia menceritakan kegelisahan hatinya.
Gadis itu sedih karena ia rindu dengan ayahnya. Sudah bertahun-tahun ayahnya tidak pulang ke pulau tempat mereka tinggal. Ia ingin menyusul ayahnya, tapi ia tidak berani meninggalkan ibu dan adiknya yang masih kecil. Ayahnya juga sudah lama tidak mengirim surat. Biasanya seminggu sekali selalu ada surat dari ayahnya. Sudah sebulan ini ayahnya tidak mengirim surat. Lumba-lumba yang mendengar cerita gadis itu ikut sedih. Meski ia tidak bisa berbicara denagn bahasa manusia, ia bisa mengerti bahasa gadis itu. Ia mengerti kesedihan yang dialami gadis itu.
Cukup lama gadis itu bercerita. Mengeluarkan segala unek-unek yang ada di hatinya. Entah mengapa ia seperti mendapat teman baru, meski ia mengira temannya itu tidak mengerti bahasanya. Baginya, cukup ia bisa mengeluarkan segala kesedihannya.
Saat matahari hampir tenggelam, gadis itu meninggalkan tempat ia duduk. Ia berjalan perlahan meninggalkan lumba-lumba yang berenang ke tengah laut lepas.
Lumba-lumba itu sambil berenang di laut berpikir untuk mengunjungi pulau tempat ayah gadis itu bekerja. Ia ingin mencari tahu keadaan ayah gadis itu.
No comments:
Post a Comment