Tuesday, March 14, 2006

Womanssss

Wanita atau perempuan yang seharusnya dilindungi dan dijunjung martabatnya seakan-akan menjadi penyebab terjadinya banyak tindak kriminalitas. perempuan malah diinjak-injak martabatnya dan dikekang kebebasannya. padahal kita sudah ada di abad 21. Abad MILENIUM. Sudah Zaman EMANSIPASI. denagn adanya Undang-undang ini... yang terjadi bukanlah kemajuan bangsa dan kemajuan kaum wanita. Melainkan kemunduran dan penurunan derajat wanita. Kaum perempuan dikembalikan lagi ke dalam zaman sebelum adanya gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Ibu Kartini. di mana arti perjuangan mereka bila saat ini kaum wanta diperlakukan seperti ini.

bila saja mereka yang sedang 'rapat' di gedung-gedung megah itu mau membuka mata dan jujur pada diri mereka sendiri, alias tidak munafik, mereka juga senang melihat wanita yang berpakaian dengan sebagaimana mestinya. maksudnya, mereka tahu batasan seberapa minim pakaian yang mereka kenakan. kalau memang pakaian minim yang dikenakan perempuan dirasa mengundang hawa nafsu, bukan berarti perempuan yang mengundang. Namun, pikiran jahat dan kotor mereka justru yang salah. Toh, banyak yang tidak merasa apa-apa.

pernahkah mereka berpikir, mengapa sampai perempuan turun ke jalan? alias menjajakan tubuhnya? rasa-rasanya mereka harus mendengarkan syair lagu Kupu-kupu Malam yang dinyanyikan Peter Pan. Keberadaan mereka seringkali karena keterpaksaan dari keadaan. Perut menuntut. dalam keadaan yang serba susah dan tanpa kemampuan, apalagi yang mampu mereka jajakan selain yang satu itu? bila mereka boleh memilih, tentu mereka tak akan memilih menjadi seperti itu.

seandainya saja pembesar-pembesar itu mau membuka mata dan turun kejalan menjadi orang kebanyakan, mereka tentu bisa melihat seberapa parah keadaan dan apa saja yang memerlukan penanganan dengan cepat. Negara ini masih belum memerlukan RUU APP itu saat ini. masih banyak hal yang harus diselesaikan pembesar-pembesar itu. Utang mereka kepada kami, rakyat kebanyakan masih sangat banyak. Urusan perut ini masih belum selesai. harga-harga yang melambung mencekik leher bisa jadi alasan utama banyaknya perempuan turun ke jalan. pernahkah mereka berpikir, dalam sehari, berapa rupiah yang harus kami keluarkan untuk memenuhi isi perut sekeluarga? belum lagi bila ada yang sakit, bersekolah dan biaya-biaya lain.... Harga bensin yang mahal tak sebanding dengan uang kompensasi yang dibagikan pemerintah. apalah artinya uang 300 ribu dalam tiga bulan itu? uang itu akan segera habis untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari yang harganya berkali-kali lipat.

gaji mereka besar. tak sebanding dengan aliran uang dalam kantong kami. pernahkah mereka mencoba mengurangi gaji mereka dan memberikan sesuatu untuk kami? mereka malahan meminta kenaikan gaji di saat gaji mereka sudah mencapai puluhan juga rupiah (di atas 20 juta malah) masih ditambah dengan berbagai fasilitas dan tunjangan. belum lagi uang-uang "monopoli mainan" yang mereka "temukan". jangan mengaca pada pengusaha yang pendapatannya jauh lebih besar. mereka bekerja membesarkan usaha yang dirintis dari nol berpuluh-puluh tahun. tapi.. pembesar ini kami gaji untuk mengatur kehidupan negara ini. bukan untuk duduk manis, rapat sana-sini, menguik-nguik urusan debu yang tak ada artinya dibanding sampah menggunung.

No comments: